Pergaulan remaja, dewasa ini sepertinya semakin liar saja. Pergaulan
remaja memang cukup luas cakupannya, oelh karenanya pada bahsan kali ini
saya menyempitkannya menjadi sex bebas. Hal ini patut mendapatkan
perhatian lebih karena sex bebas dapat menimbulkan berbagai dampak
negatif seperti penyakit kelamin, studi yang berantakan, aborsi, dll.
disebutkan bahwa di Kota Bandung, sekitar 56% remaja rentang usia 15
hingga 24 tahun pernah melakukan hubungan sex pra-nikah, berdasarkan
data tersebut berarti kurang dari setengah remaja yang ada yang belum
pernah melakukan hubungan sex. Bila kita hendak mencari pasangan disana,
kemungkinan untuk mendapatkan pasangan yang masih “polos” hanya sekitar
44% saja, bermain keberuntungan bukan?
Sebenarnya, bukan hanya remaja saja yang ikut andil dalam pergaulan
bebas yang menyimpang ini. Orang tua dan lingkungan memiliki andil besar
di dalamnya. Betapa tidak, sering kali ketika saya berjalan-jalan di
kota ini, banyak remaja yang pakaiannya cukup minim, bahkan beberapa
waktu yang lalu saya mendapati remaja berjalan dengan seseorang yang
lebih tua (kemungkinan besar ibunya) dengan mengunakan celana mini.
Menggoda mata bukan? Tidak hanya sampai disitu, di kalangan dewasapun
(baca: orang tua) ada juga yang berpenampilan tak kalah menggoda dari
anak-anaknya. Bagaimana mungkin anaknya tak menggunakan pakaian yang
menggoda bila orang yang menjadi panutannya saja melakukan hal demikian?
Lalu, apa peran lingkungan dalam membentuk situasi yang seperti ini?
Tentu, lingkungan memiliki andil yang sangat besar. Sebagian besar waktu
remaja pada rentang usia tersebut dihabiskan di luar rumah. Banyak
pengaruh yang datang dari berbagai arah. Apa yang mereka lihat dan
dengar secar tidak sadar akan terendap dalam benak mereka. Bila
lingkungan mereka merupakan lingkungan yang pro terhadap pergaulan
bebas, otomatis mereka akan menganggap pergaulan bebas merupakan hal
yang wajar hingga akhirnya mereka ikut larut di dalamnya.
Saya memang berasal dari desa dan kini saya tinggal di kota besar ini.
Awalnya saya kaget melihat gadis di kota ini. Anak SMP disini memiliki
tatapan dan gaya berjalan yang menyerupai anak SMA, menurut saya. Saya
berpikir bahwa mereka dewasa sebelum waktunya. Mereka menerima apa yang
tidak seharusnya mereka terima. Bila hal ini terus berlanjut, entah
berapa prosentase remaja di kota ini yang masih dapat mempertahankan
status “virgin”nya. Oleh karenanya, perlu ada tindakan nyata baik dari
remaja sendiri serta orang tua untuk menyikapi fenomena ini.
Sebagai remaja, hendaknya melakukan hal-hal berikut ini:
- Memperkuat iman dengan selalu belajar tentang agama. Dengan
memperkuat iman, remaja akan tau mana yang benar dan mana yang salah.
Hingga mereka akan mampu untuk membendung keingintahuan atau
keinginan-keinginan yang belum saatnya mereka nikmati.
- Tidak melihat atau menonton gambar maupun video porno. Semakin
sering seseorang menonton video porno maka semakin banyak memori-memori
tentang hal-hal yang tiak layak tersebut yang tersimpan dalam otaknya.
Ia juga akan merasa terbiasa dengan hal-hal tersebut hingga akhirnya
merasa hal tersebut adalah hal yang wajar. Terlebih lagi bila ia
menemukan suatu tempat dimana orang-orang sepertinya berkumpul, ia akan
semakin merasa bahwa hal ini wajar dan banyak diluar sana yang sama
seperti dirinya.
- Tidak mudah termakan bujuk rayu. Kata-kata yang dirangkai
sedemikian rupa memang terkadang mampu untuk meluluhkan hati
pendengarnya. Sebagai seorang remaja, janganlah cepat luluh dengan bujuk
rayu yang belum tentu juga kebenarannya. Bila pacarmu
berkata,”ayolah..katanya cinta sama aku”, sebenarnya dia tak cinta
terhadapmu, lepaskan saja dia daripada kehilangan sesuatu yang hanya
bisa diberikan sekali saja, keperawanan. Bila memang benar-beanr cinta,
mengapa tak menunggu beberapa tahun lagi? tentu akan lebih nikmat bukan?
seperti halnya orang yang kehausan setelah mengarungi gurun dan ia
mendapatkan segelas air yang menyegarkan. Bukan malah seperti orang yang
tak haus, tetapi ia dipaksa untuk minum.
- Berpikir sebelum bertindak. Berpikirlah dahulu tentang
konsekuensi yang dapat ditimbulkan dari tindakanmu. Terkadang, remaja
lebih sering berindak dahulu baru berpikir dimana berpikir ini merupakan
sebuah perwujudand ari penyesalan dan rasa takut.
- Ingat orang tua. Ingatlah kedua orang tua yang susah payah
membesarkan kita. Jangan sampai karena perbuatan yang belum waktunya
itu, kebahagiaan mereka hancur lebur. Jangan sampai karena kenikmatan
yang tak lama itu, senyum bahagia dari wajah mereka terhapuskan.
- Dll
Sebagai orang tua, hendaknya:
- Meluangkan waktu untuk anaknya. Walaupun sedikit, luangkanlah waktu
bersama anak. Biarkan mereka nyaman dengan anda, biarkan mereka nyaman
untuk bercerita kepada anda. Hingga akhirnya bila ada hal-hal yang
mengganggu mereka, mereka tidak akan sungkan untuk meminta pendapat
anda.
- Hindari gejala pergaulan bebas dari yang kecil. Jangan menunggu
hingga anak anda memakai rok mini barulah anda mengingatkan mereka,
Ingatkanlah mereka bila mereka hendak mengarah pada pergaulan yang
menyimpang. Penyimpangan kecil yang terjadi akan menghasilkan
penyimpangan yang lebih besar. Karena penyimpangan yang kecil inilah,
seolah tidak ada perubahan yang terjadi. Sebagai contoh, pernahkah anda
merasa kaki anda terasa amat berat dibandingkan ketika anda masih kecil?
tentu tidak, karena perubahannya terjadi secara perlahan dan dalam
waktu yang lama.
- Jadilah teladan yang baik. Orang tua merupakan panutan bagi
anak-anaknya. berilah mereka contoh yang baik agar mereka tak terjerumus
kepada hal yang tidak baik.
- Tanamkan agama sejak dini. Agama merupakan sesuatu yang sangat
penting karena dengan agama, seseorang akan memiliki hidup yang terarah.
- dll